Monday, November 9, 2009

Eittss...Sosiologi bukan Hapalan Lho...


Suatu ketika, sesudah saya membagikan hasil evaluasi (ulangan) pada siswa, seorang siswa mendatangi saya di kantor. Ia datang sambil membawa dua lembar kertas. Rupa-rupanya ia ingin mempertanyakan nilainya. Ia berkata “pak, kok nilai saya untuk soal-soal ini hanya segini, padahal saya menjawabnya sama persis dengan apa yang ada di buku dan catatan, sedangkan teman saya ini jawabannya tidak sama dengan catatan, kenapa nilainya bisa lebih baik dari saya ?”. Saya memperhatikannya sejenak, kemudian saya bertanya “fokus permasalahan Sosiologi itu intinya mengenai apa ?”. Ia menjawab “interaksi dan realitas sosial di masyarakat pak”. “Lalu, apa yang saya mau kamu lakukan dengan interaksi dan realitas sosial itu ?” tanya saya lagi. Anak yang secara akademik terkenal pintar di kelas itu menjawab lagi “menganalisa pak”. “Nah itu dia, analisa membutuhkan ketajaman nalar, logika, pemahaman konsep, dan argumentasi, bukan pengetahuan yang sama persis dengan buku atau catatan. Jadi maaf saja, Sosiologi bukan hapalan “sahut saya sambil tersenyum.

Di kalangan pelajar, Sosiologi kerap menjadi mata pelajaran yang membosankan. Siswa dituntut untuk menghapal materi dan teori-teori tanpa mereka memahami apa yang sesungguhnya menjadi “roh” dari ilmu Sosiologi. Pada akhirnya, Sosiologi menjadi pelajaran yang kurang populer di mata siswa. Bahkan ada stigma yang menyamakan Sosiologi dengan PPKn, agama, sejarah, ataupun pendidikan moral. Hal itu tidak sepenuhnya salah, karena di dalam Sosiologi memang terkandung hal-hal yang bersinggungan dengan PPKn, agama, sejarah, ataupun moral. Namun sekali lagi, Sosiologi tidaklah sama dan serupa dengan bidang-bidang ilmu tersebut. Logikanya, jika sama dengan PPKn, agama, sejarah, atau pendidikan moral dan budi pekerti, buat apa ada ilmu yang bernama “Sosiologi” ? Ya to ?

Ketika pertama kali Auguste Comte memproklamirkan Sosiologi sebagai ilmu, ia berpijak pada ketertarikannya pada pergerakan struktur masyarakat yang tidak ubahnya sebuah sistem organisme hidup. Ia melihat bahwa pergerakan itu pada akhirnya mampu membentuk sebuah pola-pola tertentu. Ketika ada pola yang jelas, maka secara ilmiah sesuatu hal bisa dianalisa. Karena ada pola tertentu yang bisa dilihat dan diperkirakan itulah, maka Comte memandang perlu ada ilmu tersendiri yang mempelajari masyarakat. Dari situlah kemudian lahir ilmu yang kita kenal sebagai “Sosiologi”. Dan nampak-nampaknya ilmu ala Comte ini menarik para ahli untuk berbicara dan berdebat lebih dalam mengenai masyarakat serta ilmu Sosiologi sendiri. Hingga kita kenal tokoh-tokoh Sosiologi dengan bermacam aliran pemikiran seperti Max Weber, Karl Marx, Frederick Engels, Emile Durkheim, Herbert Spencer, Peter Berger, dan masih banyak lagi. Tokoh-tokoh tersebut mewarnai perkembangan Sosiologi untuk menjadi ilmu yang mandiri dan memiliki ciri khas.

Pertanyaannya adalah, apa yang sebetulnya menjadi ciri khas objek dan kajian dari Sosiologi ? Bukankah sudah banyak ilmu yang berbicara dan bersinggungan dengan masyarakat ? Ekonomi tidak bisa lepas dari masyarakat, Sejarah tidak bisa lepas dari masyarakat, Agama tidak bisa lepas dari masyarakat, bahkan sudah ada Psikologi yang lebih spesifik membahas tentang manusia sebagai bagian inti dari masyarakat. Lalu apa yang membedakan Sosiologi dengan bidang ilmu yang lain ? Soerjono Soekanto, seorang tokoh Sosiologi Indonesia mengatakan bahwa Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari masyarakat secara keseluruhan melalui hubungan individu-individu yang terjadi dalam masyarakat tersebut. Jadi intinya, keistimewaan Sosiologi terletak pada interaksi antar manusia sebagai fokusnya. Interaksi sosial adalah objek ilmu yang menjadi ciri khas dalam Sosiologi. Sehingga tidak heran jika wilayah garapan Sosiologi bisa melebar hingga bersentuhan dengan ilmu-ilmu yang lain, karena yang namanya interaksi sosial selalu terjadi dalam segala aspek kehidupan. Maka jika saya ditanya apa itu Sosiologi, saya akan menjawab Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari masyarakat dengan interaksi sosial sebagai objek kajian utamanya.

Nah, apa yang harus kita lakukan supaya kita mudah untuk menikmati dan mempelajari Sosiologi ? Langkah-langkah berikut ada baiknya untuk kita terapkan :

1.Jangan menghapalkan materi tetapi biasakan untuk memahami materi !! Tidak perlu kita berkomat-kamit sehari semalam untuk menghapalkan materi. Biasakan untuk memahami inti dan ciri khas dari sebuah konsep. Jika perlu berikan definisi pada konsep tersebut sesuai pemahaman kita sendiri dan dengn kalimat kita sendiri, asalkan tidak melenceng dari makna intinya. Jika kita sudah paham, maka materi dan konsep tersebut akan lebih melekat di memori kita.
2.Berusahalah menemukan hubungan-hubungan antar konsep dalam materi Sosiologi. Karena semua konsep dalam Sosiologi saling berhubungan satu sama lain. Salah satu caranya adalah dengan membuat peta konsep atau skema hubungan.
3.Teliti baik-baik setiap kalimat dalam konsep Sosiologi. Jangan terburu-buru, karena terkadang hal kecil yang kita lewatkan bisa sangat berarti besar.
4.Cobalah melihat realitas sosial tidak hanya dari satu sudut pandang saja. Arahkan pikiran kita pada perspektif dunia yang luas. Ibaratnya jangan pakai kacamata kuda dalam melihat realitas sosial. Hal ini akan membantu kita dalam menganalisa dan membuat kesimpulan.
5.Biasakan untuk tidak mudah percaya pada “filsafat katanya”. Punyai data, bukti dan informasi sebelum kita menganalisa dan memberikan argumentasi atas sebuah realita dan fenomena sosial.
6.Jangan melihat masyarakat dan manusia sebagai unit yang terpisah. Pahami bahwa perilaku masyarakat mempengaruhi perilaku manusia, sebaliknya perilaku manusia juga mempengaruhi perilaku masyarakat. Bahasa kerennya, individu selalu berada dalam konteks sosial, dan fenomena sosial selalu berada dalam konteks global.
7.Jangan terjebak untuk menggunakan standar moralitas dalam memberikan penilaian pada suatu realitas sosial, meski kita hisup dalam standar itu. Ingat bahwa Sosiologi mempunyai posisi sebagai “pengamat” bukan “eksekutor”. Artinya bahwa Sosiologi mempunyai bagian untuk memandang dan menganalisa suatu realita dan fenomena, bukan memberikan penilaian benar dan salah. Prinsip dasarnya adalah SOSIOLOGI MEMAHAMI DAN BUKAN MENGHAKIMI.

Sehingga kemudian jika kita mempelajari Sosiologi, tugas kita bukanlah menghapalkan teori ataupun materi. Tetapi mempertemukan teori itu dengan kenyataan dan realitas sosial di masyarakat. Dengan kata lain, kita menggunakan teori-teori itu sebagai “pisau” untuk menganalisa dan membedah sebuah realitas sosial. Bukan untuk menghakimi realitas sosial itu, tetapi untuk memahaminya secara utuh. Jadi sekali lagi kesimpulannya, Sosiologi bukan pelajaran hapalan !! (ydk@0209)


Selengkapnya...

 


Design by: Pocket
This template is brought to you by : allblogtools.com Blogger Templates