Showing posts with label diary. Show all posts
Showing posts with label diary. Show all posts

Tuesday, January 11, 2011

Percaya atau Tidak Percaya ??


“to be trusted is a greater compliment than being loved” – George MacDonald
Ya, mempercayai jauh lebih sulit daripada mencintai, dan menjadi dipercaya jauh lebih sulit daripada dicintai. Bukankah percaya itu bagian dari cinta ?? Lalu apa masalahnya ?? Realitasnya, lebih mudah bagi kita mengatakan “saya mencintai kamu” daripada “saya percaya kamu”, bukankah begitu ?? Sebagai manusia, kita mudah simpati, suka bahkan cinta dengan seseorang, tapi untuk percaya ?? Nanti dulu..

Orang bilang bisa terjadi cinta pada pandangan pertama, tapi percaya pada pandangan pertama, bisakah ?? hahaha, akan sangat luar biasa jika anda mampu melakukannya,karena benar bahwa percaya tidak semudah membalik telapak tangan. Ada dua unsur di dalamnya, yakni proses dan waktu. Proses itu akan terlihat jika seseorang melakukan sesuatu atau banyak hal yang menunjukkan bahwa dia teguh dan mampu dipercaya melewati momen-momen tertentu. Sementara waktu akan menjadi ujian dimana kepercayaan itu dibangun di dalam rentangan waktu yang tidak hanya sekejap. Well, saya tidak akan membahas bagaimana alur kepercayaan itu dibangun, karena jawabannya tergantung dari persepsi dan situasi anda masing-masing. Saya hanya ingin mengajak anda berefleksi, bahwa kepercayaan itu bagai pedang bermata dua, memiliki dua sisi yang bisa mengangkat sekaligus menjatuhkan, membangun sekaligus menghancurkan.
Jika kita memiliki kepercayaan pada seseorang atau sesuatu, maka kita akan menjadi orang yang menutup mata dan telinga dari hal-hal yang bisa menghancurkan kepercayaan itu, baik itu berasal dari orang lain atau diri kita sendiri. Orang lain punya persepsi sendiri terhadap apa yang kita percaya, mereka memiliki tendensi, pikiran bahkan tuduhan yang mungkin saja menggoyahkan kepercayaan kita itu. Sementara kemudian jika di hati kita mulai muncul pertanyaan-pertanyaan dan keraguan-keraguan, pikiran kita mulai menerka-nerka, hingga menyelidik penuh curiga, maka itu artinya kepercayaan kita mulai terkikis pelan-pelan oleh diri kita sendiri. Saya memberi contoh ketika seorang istri percaya pada suaminya yang kerap bekerja hingga larut malam, maka ia akan menghadapi tantangan berupa persepsi orang lain yang kebanyakan negatif tentang suaminya, sehingga kemudian ia mulai merangkai adegan-adegan negatif dalam bayangannya sendiri didasarkan pada ketakutan-ketakutan akan hal-hal tersebut. Hal ini juga berlaku pada kepercayaan kita terhadap sosok Tuhan, kekuatiran dan ketidakmampuan kita memahami caraNya akan membuat kita ragu akan keberadaanNya.
Maka ketika kita percaya, adalah baik kita menjadi buta dan tuli. Dengan kata lain kita fokus pada kepercayaan kita itu, bahwa percaya artinya yakin tanpa tendensi dan ketakutan apalagi kecurigaan. Jangan biarkan pikiran-pikiran negatif itu mempengaruhi penilaian kita karena kita yang mengenal dan mempunyai pengalaman bersama dengan orang tersebut. Kepercayaan itu akan berbalas kebaikan ketika orang yang kita percaya merasa dipercayai, sehingga ia akan cenderung berhati-hati untuk menjaga kepercayaan itu. Semoga,,karena idealnya begitu hahaha :-)
Sebaliknya jika kita sudah tidak percaya, maka bersiap-siaplah menghadapi berbagai kemungkinan yang tidak mengenakkan. Sekalipun seseorang melakukan kebenaran, maka tidak akan ada gunanya karena di mata kita yang ada adalah pikiran-pikiran curiga dan negatif tentangnya. Ketakutan dan kecurigaan itu akan senantiasa membayangi hidup kita. Dan saya jamin tidaklah mengenakkan jika hidup dengan pikiran-pikiran negatif, ketakutan atau kecurigaan dengan orang lain. Pikiran-pikiran itu lambat laun akan membuat kita frustasi, tanpa kita sadari kita akan kehilangan sifat asli dan jati diri kita. Yang ada setiap langkah kita akan dikendalikan oleh kemarahan yang dipicu oleh ketakutan, kecurigaan dan bayangan-bayangan negatif itu. Ketenangan hidup lama-lama akan menjauh dari kita, dan pelan-pelan bahkan akan membuat kita kehilangan banyak hal yang kita anggap berharga, atau yang terekstrim akan juga membawa kehancuran bagi kita.
Jika kita menjadi orang yang dipercaya, maka tantangan kita adalah untuk menjaga kepercayaan itu, sekalipun kita jatuh, tapi kebangkitan adalah sebuah keharusan. Karenanya ketika kita tidak dipercaya, kita punya tanggungjawab untuk membuktikan diri..itu yang susah kan ??
Nah, tidak percaya membuat hidup kita tidak tenang, meski di satu sisi kita aman karena kita tidak menghadapi banyak resiko. Tetapi pondasi sosial kita lemah karena bagaimanapun hubungan horisontal dan vertikal membutuhkan timbal balik dalam bentuk kepercayaan. Sebaliknya, percaya membuat kita menjadi kuat sekaligus lemah. Percaya membuat kita mempunyai harapan, sandaran dan kekuatan. Sementara juga ketika kita percaya maka itu berarti kita mempunyai peluang untuk terluka, kecewa maupun mengalami kepahitan ketika kepercayaan itu rusak. So, manakah yang anda pilih, percaya atau tidak percaya ?? (ydk)
Selengkapnya...

Wednesday, December 8, 2010

"Sesuatu" Yang Membuat Saya Kembali..


“Sadarkah kita terbawa arus dunia, nilai kehidupan seakan terlupakan..kekayaan tahta keangkuhan perlahan jauhkan kita manusia dariNya Sang Pencipta..” (Kembali by GMB)
Apa kabar sahabat bloggers ?? Sekian lama kita tidak bersua..Tentu saja saya punya cerita hasil dari “mati suri” saya selama ini :). Berhubungan dengan sepenggal lagu di atas ?? Tentu saja !! Kata demi kata dari lagu itu perlahan-lahan membangkitkan “sesuatu” yang telah lama terkubur di dasar hati saya. “Sesuatu” itu selama ini saya kubur hidup-hidup. Tujuannya sederhana, agar ia mati, entah cepat atau lambat. Saya menggantinya dengan apa yang dianggap oleh setiap manusia sebagai kewajaran dunia. Kesuksesan, karir yang menanjak, uang, dan tentu saja wanita. Bagi saya, ambisi untuk mencapai semua itu jauh lebih penting dari apa yang sudah tersedia dan apa yang sudah ada. Saya meletakkan ego pribadi di atas segala-galanya. Saya membuang segala yang berharga yang sudah saya punya selama ini. Sahabat-sahabat terbaik, pendamping yang setia dan tentu saja Tuhan Sang Pencipta. Saya melupakan itu semua, termasuk juga melupakan keinginan menulis dan menyapa anda semua. Hingga akhirnya blog ini tentu saja menjadi sangat ditelantarkan (bahkan mungkin lebih tepatnya dimatikan hehehe..).
Nah, apa yang saya dapat ?? Sebagaimana manusia pada umumnya, saya ingin semua berjalan lancar. Karir sukses, uang di tangan dan tentu saja dipuja banyak wanita. Awalnya terasa indah, terasa nikmat, meski jauh di lubuk hati “sesuatu” itu terus berteriak untuk keluar. Di mata orang saya dapatkan kesuksesan, kepercayaan dan nama baik. Saya dapatkan semua kenikmatan yang saya inginkan. Untuk mencapainya bahkan saya rela menyakiti dan “membunuh” banyak orang. Ada banyak hati yang terluka dan saya korbankan begitu saja. Apa peduli saya ?? Yang penting ambisi saya terwujud. Lagipula jelas jika orang lain ada di posisi saya, mereka akan melakukan hal yang sama. Ya, homo homini lupus, manusia menjadi serigala bagi sesamanya, itu pikiran saya.
Seperti halnya jalan tol khas Indonesia, sepertinya kisah saya akan berjalan mulus tanpa hambatan, namun ternyata banyak lubang di perjalanan yang membuat saya terjatuh. Buat saya, kejatuhan itu adalah hal yang biasa. Sesaat saya terpukul, dan “sesuatu” itu seolah memiliki harapan untuk keluar, namun kemudian saya tetap memilih untuk meneruskan ambisi dan kenakalan saya, bahkan lebih parah dari sebelumnya. Sampai akhirnya saya sadar bahwa pijakan jalan yang saya lalui selama ini goyah !!
Saya mencoba menyelidiki apa yang salah dengan pijakan saya. Dan jawabannya sederhana, pondasi dari apa yang saya bangun itu ternyata adalah air, lebih tepatnya air mata !! Ya, air mata dari apa yang telah saya buang selama ini, air mata dari mereka yang telah tersakiti selama ini, air mata dari mereka yang saya korbankan selama ini. Saat tersadar, sepertinya semua terlambat. Saya sudah terlanjur tenggelam. Apa yang saya perjuangkan selama ini tidaklah mampu menolong saya, mereka yang saya anggap sahabat meninggalkan saya, dan yang saya pikir saya cintai mengkhianati saya. Bodohnya saya, berpikir bahwa orang yang dekat pada saya saat saya sukses dipenuhi dengan ketulusan. Itu fenomena umum manusia, jadi berhati-hatilah jika anda saat ini sedang sukses atau menanjak, salah-salah anda bisa bernasib seperti saya.
Saat hampir habis detak jantung saya, “sesuatu” yang terkubur itu muncul. Air rupanya mendesak barikade yang saya pasang untuknya dan memberinya jalan untuk keluar. “Sesuatu” itu mengangkat saya, membawa saya menepi dari kepayahan saya. Ia membersihkan luka-luka saya, meski tidak langsung menyembuhkan, tapi dia mampu memulihkannya perlahan-lahan secara ajaib. Ia memberi saya mata untuk melihat, telinga untuk mendengar dan hati yang baru untuk merasakannya lagi. Ia membuat saya bersyukur bahwa ternyata saya masih punya harapan. Bahwa ternyata selama ini saya mencari yang indah tanpa menyadari yang saya miliki adalah yang terindah dari yang terindah. Ia memberi saya perspektif yang berbeda dan tekad untuk membangun kehidupan saya lagi. Dan disinilah saya bersama anda. Mencoba untuk membangun dari reruntuhan nampaknya hanya akan membuat saya terjebak pada masa lalu dan kenangan-kenangan yang menyakitkan. Jadi lebih baik saya membangun yang baru dengan bahan-bahan yang baru pula, bersama anda dan semua orang yang ketulusannya telah menguatkan saya.
“Sesuatu” itu membuat saya kembali,,”Sesuatu” itu adalah..NURANI..(ydk)
Selengkapnya...

Monday, November 9, 2009

Eittss...Sosiologi bukan Hapalan Lho...


Suatu ketika, sesudah saya membagikan hasil evaluasi (ulangan) pada siswa, seorang siswa mendatangi saya di kantor. Ia datang sambil membawa dua lembar kertas. Rupa-rupanya ia ingin mempertanyakan nilainya. Ia berkata “pak, kok nilai saya untuk soal-soal ini hanya segini, padahal saya menjawabnya sama persis dengan apa yang ada di buku dan catatan, sedangkan teman saya ini jawabannya tidak sama dengan catatan, kenapa nilainya bisa lebih baik dari saya ?”. Saya memperhatikannya sejenak, kemudian saya bertanya “fokus permasalahan Sosiologi itu intinya mengenai apa ?”. Ia menjawab “interaksi dan realitas sosial di masyarakat pak”. “Lalu, apa yang saya mau kamu lakukan dengan interaksi dan realitas sosial itu ?” tanya saya lagi. Anak yang secara akademik terkenal pintar di kelas itu menjawab lagi “menganalisa pak”. “Nah itu dia, analisa membutuhkan ketajaman nalar, logika, pemahaman konsep, dan argumentasi, bukan pengetahuan yang sama persis dengan buku atau catatan. Jadi maaf saja, Sosiologi bukan hapalan “sahut saya sambil tersenyum.

Di kalangan pelajar, Sosiologi kerap menjadi mata pelajaran yang membosankan. Siswa dituntut untuk menghapal materi dan teori-teori tanpa mereka memahami apa yang sesungguhnya menjadi “roh” dari ilmu Sosiologi. Pada akhirnya, Sosiologi menjadi pelajaran yang kurang populer di mata siswa. Bahkan ada stigma yang menyamakan Sosiologi dengan PPKn, agama, sejarah, ataupun pendidikan moral. Hal itu tidak sepenuhnya salah, karena di dalam Sosiologi memang terkandung hal-hal yang bersinggungan dengan PPKn, agama, sejarah, ataupun moral. Namun sekali lagi, Sosiologi tidaklah sama dan serupa dengan bidang-bidang ilmu tersebut. Logikanya, jika sama dengan PPKn, agama, sejarah, atau pendidikan moral dan budi pekerti, buat apa ada ilmu yang bernama “Sosiologi” ? Ya to ?

Ketika pertama kali Auguste Comte memproklamirkan Sosiologi sebagai ilmu, ia berpijak pada ketertarikannya pada pergerakan struktur masyarakat yang tidak ubahnya sebuah sistem organisme hidup. Ia melihat bahwa pergerakan itu pada akhirnya mampu membentuk sebuah pola-pola tertentu. Ketika ada pola yang jelas, maka secara ilmiah sesuatu hal bisa dianalisa. Karena ada pola tertentu yang bisa dilihat dan diperkirakan itulah, maka Comte memandang perlu ada ilmu tersendiri yang mempelajari masyarakat. Dari situlah kemudian lahir ilmu yang kita kenal sebagai “Sosiologi”. Dan nampak-nampaknya ilmu ala Comte ini menarik para ahli untuk berbicara dan berdebat lebih dalam mengenai masyarakat serta ilmu Sosiologi sendiri. Hingga kita kenal tokoh-tokoh Sosiologi dengan bermacam aliran pemikiran seperti Max Weber, Karl Marx, Frederick Engels, Emile Durkheim, Herbert Spencer, Peter Berger, dan masih banyak lagi. Tokoh-tokoh tersebut mewarnai perkembangan Sosiologi untuk menjadi ilmu yang mandiri dan memiliki ciri khas.

Pertanyaannya adalah, apa yang sebetulnya menjadi ciri khas objek dan kajian dari Sosiologi ? Bukankah sudah banyak ilmu yang berbicara dan bersinggungan dengan masyarakat ? Ekonomi tidak bisa lepas dari masyarakat, Sejarah tidak bisa lepas dari masyarakat, Agama tidak bisa lepas dari masyarakat, bahkan sudah ada Psikologi yang lebih spesifik membahas tentang manusia sebagai bagian inti dari masyarakat. Lalu apa yang membedakan Sosiologi dengan bidang ilmu yang lain ? Soerjono Soekanto, seorang tokoh Sosiologi Indonesia mengatakan bahwa Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari masyarakat secara keseluruhan melalui hubungan individu-individu yang terjadi dalam masyarakat tersebut. Jadi intinya, keistimewaan Sosiologi terletak pada interaksi antar manusia sebagai fokusnya. Interaksi sosial adalah objek ilmu yang menjadi ciri khas dalam Sosiologi. Sehingga tidak heran jika wilayah garapan Sosiologi bisa melebar hingga bersentuhan dengan ilmu-ilmu yang lain, karena yang namanya interaksi sosial selalu terjadi dalam segala aspek kehidupan. Maka jika saya ditanya apa itu Sosiologi, saya akan menjawab Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari masyarakat dengan interaksi sosial sebagai objek kajian utamanya.

Nah, apa yang harus kita lakukan supaya kita mudah untuk menikmati dan mempelajari Sosiologi ? Langkah-langkah berikut ada baiknya untuk kita terapkan :

1.Jangan menghapalkan materi tetapi biasakan untuk memahami materi !! Tidak perlu kita berkomat-kamit sehari semalam untuk menghapalkan materi. Biasakan untuk memahami inti dan ciri khas dari sebuah konsep. Jika perlu berikan definisi pada konsep tersebut sesuai pemahaman kita sendiri dan dengn kalimat kita sendiri, asalkan tidak melenceng dari makna intinya. Jika kita sudah paham, maka materi dan konsep tersebut akan lebih melekat di memori kita.
2.Berusahalah menemukan hubungan-hubungan antar konsep dalam materi Sosiologi. Karena semua konsep dalam Sosiologi saling berhubungan satu sama lain. Salah satu caranya adalah dengan membuat peta konsep atau skema hubungan.
3.Teliti baik-baik setiap kalimat dalam konsep Sosiologi. Jangan terburu-buru, karena terkadang hal kecil yang kita lewatkan bisa sangat berarti besar.
4.Cobalah melihat realitas sosial tidak hanya dari satu sudut pandang saja. Arahkan pikiran kita pada perspektif dunia yang luas. Ibaratnya jangan pakai kacamata kuda dalam melihat realitas sosial. Hal ini akan membantu kita dalam menganalisa dan membuat kesimpulan.
5.Biasakan untuk tidak mudah percaya pada “filsafat katanya”. Punyai data, bukti dan informasi sebelum kita menganalisa dan memberikan argumentasi atas sebuah realita dan fenomena sosial.
6.Jangan melihat masyarakat dan manusia sebagai unit yang terpisah. Pahami bahwa perilaku masyarakat mempengaruhi perilaku manusia, sebaliknya perilaku manusia juga mempengaruhi perilaku masyarakat. Bahasa kerennya, individu selalu berada dalam konteks sosial, dan fenomena sosial selalu berada dalam konteks global.
7.Jangan terjebak untuk menggunakan standar moralitas dalam memberikan penilaian pada suatu realitas sosial, meski kita hisup dalam standar itu. Ingat bahwa Sosiologi mempunyai posisi sebagai “pengamat” bukan “eksekutor”. Artinya bahwa Sosiologi mempunyai bagian untuk memandang dan menganalisa suatu realita dan fenomena, bukan memberikan penilaian benar dan salah. Prinsip dasarnya adalah SOSIOLOGI MEMAHAMI DAN BUKAN MENGHAKIMI.

Sehingga kemudian jika kita mempelajari Sosiologi, tugas kita bukanlah menghapalkan teori ataupun materi. Tetapi mempertemukan teori itu dengan kenyataan dan realitas sosial di masyarakat. Dengan kata lain, kita menggunakan teori-teori itu sebagai “pisau” untuk menganalisa dan membedah sebuah realitas sosial. Bukan untuk menghakimi realitas sosial itu, tetapi untuk memahaminya secara utuh. Jadi sekali lagi kesimpulannya, Sosiologi bukan pelajaran hapalan !! (ydk@0209)


Selengkapnya...

Tuesday, February 3, 2009

Guru dan Murid Pacaran ?? Nah lho...

Guru pacaran dengan muridnya sendiri ? Hemm..saya tersenyum kecil ketika beberapa orang menanyakan pendapat saya tentang hal itu. Saya balik bertanya pada mereka apa tujuan mereka menanyakan hal itu pada saya. Jawabannya tepat seperti dugaan saya : karena sangat besar peluang dan kemungkinan untuk hal itu terjadi pada saya. Dasarnya adalah status sebagai guru muda dengan jarak usia yang tidak terlampau jauh dengan murid, plus habitat sekolah dimana saya mengajar yang dikenal mempunyai murid perempuan dengan “kualitas terjamin”. So, yang namanya cinta bisa tiba-tiba datang jika pelurunya sukses menembus hati, tanpa peduli siapa kita siapa dia. Nah lho...
Pertanyaannya adalah, darimana sebetulnya cinta itu muncul ?? “Teori” pertama datang dari mereka yang berpijak pada mitologi Yunani. Menurut mereka ini, dewa Cupid senantiasa berkeliling di antara manusia dan sekehendak hatinya menembakkan panah asmara di hati para laki-laki dan perempuan. Mereka yang terkena panah yang sama, otomatis akan saling jatuh cinta. Semua tergantung pada Cupid untuk menjodohkan manusia satu dengan manusia lainnya. Bagaimana dengan cinta sesama jenis ? Nah, ada yang bilang kalau Cupid tidak melihat bentuk fisik manusia, tetapi melihat hatinya. Sehingga sangat mungkin terjadi cinta sesama jenis karena Cupid menembakkan panah pada hati “perempuan” yang ternyata dibungkus dalam fisik laki-laki, dan sebaliknya ia bisa juga menembakkan panah pada hati “laki-laki” yang ternyata ada dalam fisik perempuan.
“Teori” yang kedua datang dari mereka yang berpegang pada peribahasa “cinta datang dari mata dan turun ke hati”. Dalam konsep ini, “cinta pada pandangan pertama” dan “kesan pertama” menjadi sangat penting. Karena cinta itu tumbuh melalui perspektif kita dalam memandang seseorang. Sejauh mana penampilan dan aura seseorang mampu melahirkan rasa simpati, tertarik, dan cinta di hati kita, itu kuncinya. Beberapa penelitian ilmiah mengatakan bahwa dalam tubuh manusia mengalir hormon feromon yang mampu memancing ketertarikan orang lain pada kita. So, bila modal feromon itu dikombinasikan dengan penampilan yang istimewa, maka tidaklah sulit untuk saling tertarik dan jatuh cinta dengan orang lain. Kelemahannya, cinta model ini ibarat iklan, tergantung pada bentuk, penampilan dan kemasan produk yang ditawarkan. Syukur-syukur kita dapatkan kemasan yang menarik plus isi yang berkualitas. Namun jika tidak ??
Yang ketiga, adalah “teori’ yang melandaskan diri pada pepatah jawa yang berbunyi “witing tresna jalaran saka kulina”. Ya, cinta datang dari kebiasaan dan frekuensi pertemuan antar manusia. Dari pertemuan-pertemuan itu biasanya muncul dinamika-dinamika yang berupa interaksi bahkan gesekan. Namun ujung-ujungnya adalah rasa tertarik satu sama lain. Tumbuhnya rasa tertarik itu terkadang tidak disadari, karena seolah-olah hubungan yang terjadi adalah hubungan yang “biasa”. Tetapi bila hubungan itu berubah menjadi “tidak biasa”, di situlah bibit-bibit cinta mulai tertabur di ladang hati. Cinta model ini mempunyai kelebihan terutama dalam hal sudah adanya pengenalan satu sama lain terlebih dulu sehingga meminimalkan kepura-puraan dan berimbas pada awetnya hubungan. Ibarat sepeda motor “Honda”, makin lama dipacu, mesin makin panas dan kuat daya tahannya. Masalahnya adalah bagaimana bila cinta yang datang karena sudah terbiasa itu semakin lama menjadi semakin “biasa’ dan tidak lagi “istimewa” ?? Akibatnya cinta seolah-olah akan bermetamorfosis menjadi kejenuhan dan kebosanan yang harus disingkirkan.
Dari tiga “teori” di atas, manakah yang menjadi pemicu utama hubungan cinta antara guru dan murid ? Jawaban saya : ketiga-tiganya !! Yang namanya cinta memang tidak dapat diduga darimana datangnya. Ia tidak pilih siapa dan rupa. Cinta juga tidak memilih status, agama, latar belakang budaya, ataupun usia. Cinta tidak peduli pada siapa ia menjatuhkan pilihan, sekalipun ia harus berhadapan dengan nilai dan norma. “Love is love”. Cinta adalah cinta. Hakekatnya adalah “rasa”. Sehingga jangan heran bila tidak hanya guru laki-laki yang bisa jatuh cinta dengan murid perempuan, sebaliknya guru yang perempuan pun bisa juga menjalin hubungan dengan muridnya laki-laki. Ketika panah Cupid menembus hati, maka segala tata cara dan tetek bengek norma dunia tidak akan lagi bermakna. Tentu saja,unsur feromon dan penampilan juga ikut berperan. Pastilah ada sesuatu yang istimewa di pihak guru, dan juga ada yang spesial di pihak murid sehingga mereka bisa saling jatuh cinta satu sama lain. Dan yang paling penting, jelas cinta itu juga datang karena frekuensi pertemuan yang tinggi antara guru dan murid tersebut. Ingat, di dalam sebuah pertemuan tidak hanya terkandung kata-kata, tetapi juga ada kontak mata, kontak hati dan pikiran, bahkan bahasa tubuh pun berbicara. Kesemuanya itu akan memancing cinta untuk keluar dari sarang hati yang terdalam. Efeknya ?? Tentu saja mereka akan mengorbankan banyak hal untuk menempuh resiko menjalani salah satu bentuk hubungan yang (menurut saya) adalah salah satu hubungan cinta “tergila” yang pernah ada di masyarakat. Melawan norma, berhadapan dengan dunia, dan bermain peran sedemikian rupa agar hubungan itu tetap “aman” adalah bagian dari resiko, tantangan sekaligus sensasi yang dirasakan oleh para pelaku dalam hubungan cinta antar guru-murid ini.
Kalau kita bicara dalam perspektif sosiologi, hubungan cinta antar guru-murid bisa dikategorikan dalam perilaku menyimpang. Karena perilaku menyimpang tidak hanya berarti perilaku yang melanggar nilai dan norma, tetapi juga perilaku yang berbeda dengan perilaku masyarakat pada umumnya dan tidak lazim. Tetapi salahkah itu ?? Menurut saya tidak sama sekali !! Dalam hal cinta, ada unsur kebebasan disana. Sehingga apapun pilihan cinta, kita harus menghormatinya sebagai manusia. Karenanya bagi saya, hubungan cinta antar guru-murid ini adalah bentuk perilaku menyimpang primer yang positif. Meski bisa menguncang psikologis masyarakat, namun di dalamnya tidak terkandung maksud mengganggu dan merusak tatanan masyarakat secara keseluruhan.
Tetapi sekali lagi, kebebasan itu juga harus diimbangi dengan dua hal yang terpenting, yakni kesadaran dan obyektivitas. Kesadaran itu berarti sadar akan pilihan dan resiko yang harus dihadapi dengan hubungan cinta antar guru-murid ini. Guru dan murid itu juga harus bisa cerdas dalam menempatkan diri baik di sekolah maupun di masyarakat. Sehingga dalam perjalanannya tidak akan merugikan dua belah pihak. Dan yang kedua, obyektivitas profesional juga tetap harus dijaga. Universitas London pernah melakukan penelitian mengenai efek jatuh cinta. Hasilnya, diketahui bahwa ketika sedang jatuh cinta bagian otak manusia yang mengontrol pikiran-pikiran kritis akan terganggu. akibatnya, terjadi peningkatan aktivitas di bagian otak yang merespon terhadap reward atau hal-hal baik. Sementara bagian otak yang biasa membuat penilaian-penilaian negatif mengalami penurunan aktivitas. Artinya, mereka yang jatuh cinta seakan dibutakan cinta sehingga penilaian tentang pasangan mereka tak seobyektif biasanya. Penilaian terhadap orang yang dicintai lebih cenderung ke penilaian yang bersifat positif. Sedangkan hal-hal negatif atau kesalahan pasangan kerap terlewatkan. Disini jelas guru harus tetap obyektif. Jangan lantas karena murid itu pasangannya, ia tidak obyektif dalam hal pelajaran dan penilaian. Harus bisa dibedakan antara hubungan cinta dengan hubungan profesional antara guru dan murid. Jangan sampai permasalahan dalam hubungan cinta merembet dalam hubungan profesional di sekolah. Di balik cinta antara pria dan wanita yang muncul, guru tetaplah seorang guru, murid tetaplah seorang murid. (ydk@2009)
Selengkapnya...

Friday, January 9, 2009

Rajawali vs Emprit

Kira-kira hal apa yang menjadi “momok” buat anak kelas XII (3 SMA) ? Ya, nampaknya tidak salah kalau kita menjawab Ujian Nasional (UN) sebagai sesuatu yang paling menakutkan buat anak kelas XII. Bagaimana tidak, vonis atas kelulusan mereka tergantung pada beberapa mata pelajaran yang diujikan hanya dalam tiga hari. Buat mereka, bisa lulus artinya seperti lolos dari gua singa dan tidak lulus artinya terperangkap dalam kegagalan dan rasa malu. Mencontek judul film yang dibintangi Nicholas Saputra, UN itu bagaikan “tiga hari untuk selamanya”. Nah, hari-hari yang terlewati sejak aku masuk pertama kali di kelas XII sebetulnya menjadi hari-hari yang cukup menyenangkan. Aku jadi melihat bahwa di balik setiap tindakan dan kenakalan mereka, mereka mempunyai latar belakang dan alasan yang bermacam-macam. Istilahnya, aku jadi melihat kemanusiaan mereka yang sebetulnya jauh berbeda dari yang aku bayangkan. Mereka adalah anak-anak muda yang membutuhkan “sesuatu”. “Sesuatu” itu bisa berarti teman, sahabat, teladan, panutan, dukungan, atau bahkan sandaran. Secara sederhana, aku jadi merasa punya ikatan dan tanggungjawab terhadap mereka (sesuatu yang sebelumnya selalu aku hindari). Ikatan dan tanggungjawab itu menjadi semakin kuat ketika “momok” bernama ujian nasional mulai menghantui mereka.
Kalau mau jujur, sebetulnya bagi murid-muridku, menghadapi UN ibarat menghadapi sebuah pertandingan final. Tentu saja tidak semua orang akan memilih peranan yang sama dalam pertandingan itu. Imbasnya, secara garis besar ada empat peranan yang muncul dari murid-muridku. Yang pertama, mereka yang memilih untuk berperan sebagai “pemain”. Mereka-mereka yang masuk kelompok ini umumnya mempersiapkan diri dengan keras. Bahkan tidak jarang mereka menambah porsi “latihan”, misalnya dengan mengikuti les ataupun setia mendatangi guru mapel buat konsultasi. Tidak semua anak yang masuk kelompok ini adalah anak yang dikenal pintar di kelas, tetapi juga anak-anak yang dikenal lemah dalam pelajaran. Bukan apa-apa, alasan utama mereka memilih jadi “pemain” sebetulnya adalah ketakutan dan kekhawatiran apakah dengan kecerdasan yang “pas-pasan” (ini menurut mereka lho..) mereka bisa lulus. Tapi yang jelas, mereka yang ada di kelompok ini patut diacungi jempol karena semangat dan kemauannya yang besar.
Yang kedua, adalah mereka yang memilih untuk jadi “komentator”. Mereka tahu bahwa “final” itu harus dimenangi. Mereka juga tahu bahwa untuk menang harus berlatih dan mempersiapkan diri dengan baik. Tapi sayangnya, mereka tidak mau bersusah-susah untuk itu. Tahu bagaimana caranya tetapi tidak mau melakoni usahanya. Ingin hasilnya tetapi takut untuk menjalani prosesnya. Murid-murid yang masuk di kelompok ini umumnya selalu berusaha “melarikan diri” dengan melakukan refreshing sebanyak-banyaknya atau dengan ucapan “santai saja, jangan dibuat ngoyo”. Yang gawat, mereka sering berlindung di balik kata “percaya” dan “iman” bahwa mereka pasti lulus. Percaya dan iman sih memang perlu, tapi kalau tanpa usaha sama sekali ? Bahkan burung-burung di udara yang dipelihara Tuhan pun harus terbang kesana kemari dan berusaha keras untuk mendapatkan makanan kan ? Yang jelas, setahuku Tuhan tidak pernah memberikan makanan untuk burung-burung langsung dari langit dan sekaligus menyuapkannya ke paruh mereka. Nah lho..!!
Kelompok yang ketiga, adalah mereka yang memilih jadi “suporter”. Artinya mereka adalah kelompok yang mengekor apapun hasil yang didapat “pemain”. Dengan kata lain mereka yang di kelompok ini cenderung bergantung pada teman-temannya yang jadi “pemain”. Syukur-syukur “pemain” menang, sehingga mereka pun ikut menang. Mereka menanti limpahan jawaban sebagai bentuk “kemurahan hati” dan “belas kasihan”. Otomatis, bagi kelompok ini posisi tempat duduk di waktu ujian menjadi penentu keberhasilan mereka. Kalau dapat tempat duduk dekat si bintang kelas, mereka ibarat duduk di kursi VVIP. Yah, sial-sialnya dapat tempat duduk kelas festival alias dekat dengan anak yang niat meski tidak pintar-pintar amat. Seenggak-enggaknya bisa dapat jawaban meski belum tentu benar.
Yang terakhir, sebuah pertandingan olahraga biasanya tidak lepas dari pertaruhan atau judi. Nah, kelompok petaruh ini biasanya menempuh banyak cara yang umumnya tidak jujur. Yang penting menang. Mereka tahu bahwa UN itu adalah “final” yang harus dimenangi. Tapi mereka juga tidak yakin diri mereka mampu untuk memenanginya dengan jujur. Akhirnya mereka menggunakan semua sumber daya terutama ekonomi yang mereka miliki. Berusaha kesana kemari mendapatkan dan membeli bocoran dengan harga yang kadang tidak masuk akal dibanding dengan kadar kebenarannya, atau memberikan imbalan uang pada teman yang mau memberikan jawaban. Mereka yang masuk kelompok ini bahkan tidak hanya mereka yang memang mampu secara finansial, tetapi mereka juga yang keuangannya pas-pasan. Jual handphone sampai korupsi uang spp pun terpaksa dilakoni demi menempuh jalur “petaruh” ini.
Pertanyaannya, kira-kira dari empat kelompok tadi mana yang paling besar persentase keberhasilannya ? Wallahualam..Susah untuk dipastikan !! Ujung-ujungnya semuanya kembali pada rahasia dan kemurahan hati Sang Khalik. Banyak cerita bahwa anak pintar belum tentu lulus UN, sebaliknya anak bodoh belum tentu tidak lulus UN. Hebatnya, semua murid-murid aku menyadari hal itu..!! Mereka tahu bahwa selalu ada faktor x yang tidak bisa diprediksi, dan itu jadi wilayah Tuhan. Jadinya selain mempraktekkan cara-cara di atas, mereka juga beramai-ramai mencari Tuhan. Yang biasanya cuma nongkrong di masjid, menjelang UN mulailah mereka sholat tahajud. Yang biasanya ke gereja kalau sempat, menjelang UN mereka nyempet-nyempetin diri ke gereja. Yang biasanya sebelum makan saja emoh berdoa, menjelang UN sebelum dan sesudah makan pun berdoa. Kalau mereka yang termasuk kelompok “pemain” sih agaknya memang sudah pas dan wajar kalau selain berusaha mereka juga berdoa. Lah kalau kelompok “komentator”, “suporter” dan “petaruh” ?Agaknya dialog berikut bisa menggambarkan jawabannya. “Tuhan kan melarang kita berbuat yang tidak jujur. Lha kamu mau berbuat curang, terus ngapain kamu berdoa ? itu kan aneh ?” tanya si Paidi pada Darmo. Darmo menjawab “lho, curang itu kan tergantung dari mana kita melihatnya. Kalau buat aku itu bentuk kreativitas dan usaha supaya berhasil. Makanya minta ijin sama Tuhan, seenggak-nggaknya biar nggak ketahuan sama pengawas..”. Itulah realitas kita, berbuat salah pun masih mencari pembelaan dan pembenaran. Jangan-jangan jika karena curang terus kemudian mereka lulus, itu pun dianggap sebagai kewajaran ? Wah, aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya mereka setelah lulus UN nanti. Jadi rajawali, atau sekedar emprit ?? (ydk) Selengkapnya...

Guru Kagok

Guru kelas XII dan X ??What ?? Itu reaksi pertamaku kala diminta mengajar sosiologi di sebuah SMA swasta di kota Salatiga tepat 6 bulan setelah lulus kuliah. Asal tahu saja, sekolah dimana aku mengajar terkenal di seantero kota sebagai sekolah yang murid-muridnya ndableg meski juga terkenal elite dan mampu dari segi ekonomi. Karuan saja muncul ketakutan di pikiranku terutama soal mengajar kelas XII. Kalau mengajar kelas X sih masih bisa diterima lah, toh aku dan mereka sama-sama “orang baru”, setidak-tidaknya masih punya modal wibawa jadi guru. Tapi kelas XII? Mereka kan sudah lebih “senior” daripada aku di sekolah itu. Tambahan lagi, aku tidak punya modal teknik mengajar sama sekali (kuliah aku S1 sosiologi dari FISIP bukan kuliah pendidikan) plus usia yang cuma terpaut 5 tahun dari rata-rata usia mereka. Secara fisik pun, banyak orang bilang kalau aku pakai seragam SMA masih pantes ditunjang dengan perawakan yang cungkring habiss...Makanya, hari pertama mengajar jadi “tanggal merah” yang sukses memaksaku melakukan sesuatu yang sudah amat jarang aku lakukan saat itu...Berdoa dan berpuasa..!!Hahaha...
Nah, “akhirnya datang juga” (bukan promosi acara tv lho..) hari pertama mengajar di kelas XII. Persis seperti tentara yang mau maju perang, segala kemungkinan juga sudah aku siapkan. Kalau tentara bersiap dengan senjata isi peluru, aku juga bersiap dengan senjata kata-kata kalau-kalau murid-murid itu menembaki aku dengan peluru cibiran plus berondongan kata-kata pedas. Pikirku, pengalaman jadi anak IPS semasa SMA bisa jadi modal buat menghadapi mereka. Mungkin secara psikologis ada kesamaan, meski toh rasa gugup juga tetap setia menemani hari itu.
Dan benar saja, cuma satu kata yang bisa dipakai buat menggambarkan situasi kelas saat itu...Gila !! Perawakan mereka yang “gede-gede” (mungkin itu indikasi perbaikan gizi anak Indonesia) awalnya membuatku agak gentar. Lagipula nampaknya mereka bukan hanya “biang ribut”, tapi sudah pada taraf “ahli ribut”. Aku ngomong dua kata, mereka ngomong empat kata. Aku ngomong satu kalimat, mereka ngomong satu paragraf. Pokoknya, mirip dengan konsep kelipatan di matematika. Bayangkan jika aku ngomong satu alinea, jangan-jangan mereka akan menyahut dengan omongan satu novel..wah!! Kritisnya bukan main, persis seperti yang disampaikan kepala sekolah tentang karakter anak-anak kelas XII IPS. Apalagi nampaknya mereka pikir sosiologi bukan pelajaran yang menarik, entah karena memang sudah antipati atau karena sosiologi yang mereka terima sebelumnya memang terasa membosankan (soal pengajaran sosiologi yang sering dianggap membosankan ini akan diulas di tulisan lain). Yang paling “menyakitkan”, fisikku yang junkies ini membuat mereka menyebut dan menarik kesimpulan bahwa aku ini seorang “pemakai” !! Yah, meski aku juga bukan orang yang “bener”, tapi satu kenakalan yang sama sekali tidak pernah aku sentuh adalah narkoba. Kontan saja rasa jengkel menyeruak di hati. Tapi entah kenapa, di bagian lain hati aku mengatakan bahwa ini tantangan yang harus dihadapi. Aku harus bisa “menguasai” mereka..!!
Pikiranku dikuasai kesadaran bahwa aku harus segera menemukan cara untuk menaklukkan mereka. Prosesor inti di otak pun segera mengolah data meski memori RAM dan memori harddisknya terbatas. Beruntunglah aku karena tidak pernah ada virus brontok atau worm yang bisa menyerang otak manusia. Sampai akhirnya muncul teori Weber tentang “empati” dan teori Gramsci tentang “hegemoni” yang dulu aku pelajari semasa kuliah. Dengan empati, maka aku mencoba menempatkan diri di posisi mereka, menyelami pikiran mereka, dan mencari tahu apa yang mereka inginkan dariku. Jika berpikir seperti mereka, aku jadi tahu apa yang mereka mau, dan aku pun bisa merumuskan cara apa yang cocok untuk menangani mereka. Ibaratnya, “pegang ekornya tapi lepaskan kepalanya”. Kuasai mereka tanpa mereka menyadari bahwa mereka dikuasai dan bahkan mereka menyerahkan diri untuk dikuasai. Itulah konsep hegemoni yang diungkap Gramsci. Maka kemudian aku katakan pada mereka bahwa di kelasku setiap orang tidak hanya punya kebebasan, tapi juga tanggungjawab masing-masing. Bagiku lebih menyenangkan “santai tapi serius” daripada “serius tapi santai”. Artinya aku membebaskan mereka untuk menikmati pelajaran dengan cara mereka. Jika merasa nyaman mengerjakan soal dengan mendengarkan musik, maka lakukanlah itu. Jika merasa haus atau mengantuk, maka mereka boleh keluar sejenak untuk minum ataupun cuci muka. Tetapi aku pun memberikan batasan-batasan yang harus mereka ikuti. Aku katakan pada mereka bahwa setiap pilihan dan tindakan mengandung konsekuensinya masing-masing. Misalnya mereka boleh protes dan mengkritik, tapi mereka juga harus bisa konsekuen dengan apa yang mereka kritisi dan ucapkan. Setiap pertanyaan dan sanggahan yang diajukan hendaknya dilakukan untuk membangun bukan menjatuhkan. Prinsip demokrasi menjadi landasan utama di kelas. Murid punya hak untuk salah, demikian juga guru tidak selalu benar.
Di luar dugaan, mereka mendengarkan aku. Tapi yang namanya ndableg, setelah itu mereka beramai-ramai mengangkat tangan dan mengatakan “pak, haus, beli minum sebentar ya ?”, “pak, ngantuk, ke belakang ya ?”, dan ini yang paling parah “pak, capek habis olahraga, boleh lesehan dan berbaring di lantai sebentar ?” Yah, masak mau menjilat ludah sendiri, akhirnya aku ijinkan dengan catatan kalau aku bilang “kita mulai” semua harus fokus pada pelajaran. “Sipplah pak” jawab mereka dengan senyum yang seolah-olah sudah menang. “Sialan” batinku, dikerjai murid sendiri di hari pertama mengajar. (ydk) Selengkapnya...

 


Design by: Pocket
This template is brought to you by : allblogtools.com Blogger Templates